Selasa, 18 Oktober 2011

Bunga Rampai Nasihat

K.H. Abdullah Gymnastiar


Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna, sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela, kehinaan.

Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al Amin (seorang yang sangat terpercaya).

Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun amanah yang kita pikul.

Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya, atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.***

Sabtu, 15 Oktober 2011

Barokah Shalat Khusyu

K.H. Abdullah Gymnastiar


Hikam:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu dalam sholatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna. (Al-Quran: Surat Al-Mu`minun )

Rosulullah SAW bersabda : Ilmu yang pertama kali di angkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani )

Nabi Muhammad SAW dalam sholatnya benar-benar dijadikan keindahan dan terjadi komunikasi yang penuh kerinduan dan keakraban dengan Allah. Ruku, sujudnya panjang, terutama ketika sholat sendiri dimalam hari, terkadang sampai kakinya bengkak tapi bukannya berlebihan, karena ingin memberikan yang terbaik sebagai rasa syukur terhadap Tuhannya. Sholatnya tepat pada waktunya dan yang paling penting, sholatnya itu teraflikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:

  1. Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi maksiat. Jadi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu suka berbuat maksiat berarti sholatnya belum berkualitas atau belum khusyu.
  2. Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja.
  3. Cinta kebersihan karena sebelum sholat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.
  4. Tertib dan disiplin, karena sholat sudah diatur waktunya.
  5. Selalu tenag dan tuma`ninah, tuma`ninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.
  6. Tawadhu dan rendah hati, tawadhu merupakan akhlaknya Rosulullah.
  7. Tercegah dari perbuatan keji dan munkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.


Orang yang sholatnya khusyu dan suka beramal baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, mudah-mudahan orang tersebut tidak hanya ritualnya saja yang dikerjakan tetapi ilmunya bertambah sehingga membangkitkan kesadaran dalam dirinya.

Jika kita merasa sholat kita sudah khusyu dan kita ingin menjaga dari keriaan yaitu dengan menambah pemahaman dan mengerti bacaan yang ada didalam sholat dan dalam beribadah jangan terhalang karena takut ria.

Inti dalam sholat yang khusyu yaitu akhlak menjadi baik, sebagaimana Rosulullah menerima perintah sholat dari Allah, agar menjadikan akhlak yang baik. Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.

Semoga dibulan ramadhan ini kita meningkatkan kualitas sholat kita.

Amal yang Tetap Bermakna

K.H. Abdullah Gymnastiar


Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan ALLOH datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama ALLOH malah menghilang.

Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada ALLOH sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.

Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.

Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan ALLOH. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.

Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.

Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.

Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, "Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada ALLOH.

Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.

Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.

Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2) Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub, maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaran untuk diri sendiri.

Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, "Ya ALLOH saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah". Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat, maka kita juga yang akan menanggungnya.

Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, "Ya ALLOH saya ingin tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH". Weker pun diputar, istri diberi tahu, "Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu ijabahnya doa". Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.

Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALOH, maka kalau ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin ALLOH tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH Mahatahu apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang menidurkan kita dengan pulas.

Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah. ***

SEMPIT HATI

KH. Abdullah Gymnastiar

Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang, yang jernih, karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit.

Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang, walaupun ada anjing, ada ular, ada kalajengking, dan ada aneka binatang buas lainnya, pastilah lapangan akan tetap luas. Aneka binatang buas yang ada malah makin nampak kecil dibandingkan dengan luasnya lapangan. Sebaliknya, hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit, baru berdua dengan tikus saja, pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan anjing, singa, atau harimau yang sedang lapar, pastilah akan lebih bermasalah lagi.

Entah mengapa kita sering terjebak dalam pikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak nyaman, yang membuat pikiran kita menjadi keruh, penuh rencana-rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi hati yang mendidih, bergolak, penuh ketidaksukaan, terkadang kebencian, bahkan lagi dendam kesumat. Capek rasanya. Menjelang tidur, otak berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan kedendaman yang ada di lubuk hatinya agar habis tandas terpuaskan kepada yang dibencinya. Hari-harinya adalah hari uring-uringan makan tak enak, tidur tak nyenyak dikarenakan seluruh konsentrasi dan energinya difokuskan untuk memuaskan rasa bencinya ini.

Ah, sahabat. Sungguh alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati. Dia akan mudah sekali tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak termaafkan, kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya menderita, sengsara, atau tidak berdaya.

Seringkali kita dengar orang-orang yang dililit derita akibat rasa bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rosul, para nabi, para ulama yang ikhlas, orang-orang yang berjiwa besar, bukanlah mencontohkan mendendam, membenci atau busuk hati. Yang dicontohkan mereka justru pribadi-pribadi yang berdiri kokoh bagai tembok, tegar, sama sekali tidak terpancing oleh caci maki, cemooh, benci, dendam, dan perilaku-perilaku rendah lainnya. Sungguh, pribadinya bagai pohon yang akarnya menghunjam ke dalam tanah, begitu kokoh dan kuat, hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun, tetap mantap tak bergeming.

Tapi orang-orang yang lemah, hanya dengan perkara-perkara remeh sekalipun, sudah panik, amarah membara, dan dendam kesumat. Walaupun non muslim, kita bisa mengambil pelajaran dari Abraham Lincoln (mantan Presiden Amerika). Dia bila memilih pejabat tidak pernah memusingkan kalau pejabat yang dipilihnya itu suka atau tidak pada dirinya, yang dia pikirkan adalah apakah pejabat itu bisa melaksanakan tugas dengan baik atau tidak. Beberapa orang kawan dan lawan politiknya tentu saja memanfaatkan moment ini untuk menghina, mencela, dan bahkan menjatuhkannya, tapi ia terus tidak bergeming bahkan berkata dengan arifnya,

"Kita ini adalah anak-anak dari keadaan, walau kita berbuat kebaikan bagaimanapun juga, tetap saja akan ada orang yang mencela dan menghina. Karena pencelaan, penghinaan bukan selamanya karena kita ini tercela atau terhina. Pastilah dalam kehidupan ini ada saja manusia yang suka menghina dan mencela".
Jadi, ia tidak pusing dengan hinaan dan celaan orang lain. Nabi Muhammad, SAW, manusia yang sempurna, tetap saja pernah dihina, dicela, dan dilecehkan. Bagaimana mungkin model kita ini, tidak ada yang menghina ? Padahal kita ini hina betulan.

Ingatlah bahwa hidup kita di dunia ini hanya satu kali, sebentar dan belum tentu panjang umur, amat rugi jikalau kita tidak bisa menjaga suasana hati ini. Camkanlah bahwa kekayaan yang paling mahal dalam mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini. Walaupun rumah kita sempit, tapi kalau hati kita 'plooong' lapang akan terasa luas. Walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, sehat, akan terasa enak. Walaupun badan kita lemes, tapi kalau hati kita tegar, akan terasa mantap. Walaupun mobil kita merek murahan, motor kita modelnya sederhana, tapi kalau hati kita indah, akan tetap terhormat. Walaupun kulit kita kehitam-hitaman, tapi kalau batinnya jelita, akan tetap mulia. Sebaliknya, apa artinya rumah yang lapang kalau hatinya sempit?! Apa artinya Fried Chicken, Burger, Hoka-hoka Bento, dan segala makanan enak lainnya, kalau hati sedang membara ?! Apa artinya raungan ber-AC kalau hati mendidih ?! Apa artinya mobil BMW, kalau hatinya bangsat ?!

Lalu, bagaimana cara kita mengatasi perasaan-perasaan seperti ini ? Yang pertama harus kita kondisikan dalam hati ini adalah kita harus sangat siap untuk terkecewakan, karena hidup ini tidak akan selamanya sesuai dengan keinginan kita. Artinya, kita harus siap oleh situasi dan kondisi apapun, tidak boleh kita hanya siap dengan situasi yang enak saja. Kita harus sangat siap dengan situasi dan kondisi sesulit, sepahit dan setidak enak apapun. Seperti pepatah mengatakan, 'sedia payung sebelum hujan'. Artinya, hujan atau tidak hujan kita siap.

Hal kedua yang harus kita lakukan kalau toh ada orang yang mengecewakan kita, adalah dengan jangan terlalu ambil pusing, sebab kita akan jadi rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja. Yang membagikan rizki adalah ALLAH, yang mengangkat derajat adalah ALLAH, yang menghinakan juga ALLAH. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang, sampai 'doer' itu bibir menghina kita, sungguh tidak akan kurang permberian ALLAH kepada kita. Mati-matian ia menghina, yakinlah kita tidak akan hina dengan penghinaan orang. Kita itu hina karena kelakuan hina kita sendiri.

Nabi SAW, dihina, tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang menghinanya, Abu Jahal sengsara. Salman Rushdie ngumpet tidak bisa kemana-mana, Permadi, Arswendo Atmowiloto masuk penjara. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Dikisahkan ketika Nabi Isa as dihina, ia tetap senyum, tenang, dan mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabatnya, "Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?" Nabi Isa as, menjawab : "Karena setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia."

Sungguh, seseorang itu akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya. Ketika Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampungnya, "Hai kamu bodoh, gila, kurang ajar!", Ahnaf bin Qais malah menjawab, "Sudah ? Masih ada yang lain yang akan disampaikan ? Sebentar lagi saya masuk ke kampung Saya, kalau nanti di dengar oleh orang-orang sekampung, mungkin nanti mereka akan dan mengeroyokmu. Ayo, kalau masih ada yang disampaikan, sampaikanlah sekarang !".

Dikisahkan pula di zaman sahabat, ada seseorang yang marah-marah kepada seorang sahabat nabi, "Silahkan kalau kamu ngomong lima patah kata, saya akan jawab dengan 10 patah kata. Kamu ngomong satu kalimat, saya akan ngomong sepuluh kalimat". Lalu dijawab dengan mantap oleh sahabat ini, "Kalau engkau ngomong sepuluh kata, saya tidak akan ngomong satu patah kata pun".

Oleh karena itu, jangan ambil pusing, janga dipikirin. Dale Carnegie, dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang seekor beruang kutup yang ganas sekali, selalu main pukul, ada pohon kecil dicerabut, tumbang dan dihancurkan. Di tengah amukannya, tiba-tiba ada ada seekor binatang kecil yang lewat di depannya. Anehnya, tidak ia hantam, sehingga mungkin terlintas dalam benak si beruang ini, "Ah, apa perlunya menghantam yang kecil-kecil, yang tidak sebanding, yang tidak merugikan kepentingan kita".

Percayalah, makin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang sepele, akan makin sengsara hidup ini. Padahal, mau apa hidup pakai sengsara, karena justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal, karena kalau tidak ada yang menghina, menganiaya, atau menyakiti, kapan kita bisa memaafkan ?

Nah sahabat. Justru karena ada lawan, ada yang menghina, ada yang menyakiti kita bisa memaafkan. Kalau dia masih muda, anggap saja mungkin dia belum tahu bagaimana bersikap kepada yang tua, daripada sebel kepadanya. Kalau dia masih kanak-kanak, pahami bahwa tata nilai kita dengan dia berbeda, mana mungkin kita tersinggung oleh anak kecil. Kalau ada orang tua yang memarahi kita, jangan tersinggung, mungkin dia khilaf, karena terlalu tuanyua. Yang pasti makin kita pemaaf, makin kita berhati lapang, makin bisa memahami orang lain, maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini, subhanallah.

Senin, 10 Oktober 2011

5 (Lima) S

K.H. Abdullah Gymnastiar


Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.

Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?

S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?

S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?

S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.

S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?

Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.***

Wanita Shalehah

Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)


Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari. Hikam: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Rosulullah saw bersabda: "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah." (HR. Muslim) Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsipnya wanita solehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah daripada orang tua yang taat. Dan, Insyaallah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik. Agar wanita solehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada. Wanita yang solehah juga dapat berbakti terhadap suami dan bangsanya dan wanita yang solehah selalu belajar. Tiada hari tanpa belajar. --

Keluarga Kunci Kesuksesan

K.H. Abdullah Gymnastiar


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun
karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah
dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!

Penyebab kegagalan seseorang diantaranya :

  • Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai
    untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
  • Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.

Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.

Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:

  • Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
  • Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
  • Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
  • Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.
  • Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.

Menyikapi Perbedaan

Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

SAUDARAKU, alangkah indahnya taman bunga di sekeliling kita. Aneka warna, perbedaan, ragam, dan bau wewangian. Sungguh, keindahan itu mewujud karena adanya perbedaan. Keindahan bukan mewujud dari persamaan atau kesamaan warna kulit, bentuk, bahasa, dan lainnya. Perbedaan akan menjadi keindahan dan kian indah apabila diikat dengan hati. Saudaraku, Allah menghadirkan hidup di negeri ini dalam perbedaan. Alangkah indahnya kalau perbedaan ini kita pahami dan kita jadikan sebagai suatu potensi bagi terwujudnya persatuan. Ketahuilah, kita berbeda tetapi sama-sama ciptaan-Nya.

Sudah cukup kita saksikan dan rasakan bersama betapa tindakan-tindakan yang tidak bijaksana, bahkan anarkis (membuat kerusakan) selain tidak menyelesaikan masalah, yang terjadi malah menambah masalah. Betapa tindakan-tindakan yang membuat kerusakan di mana pun dan kapan pun ternyata mengakibatkan beragam masalah yang tiba-tiba muncul, secara diduga atau tidak.

Janganlah akibat suatu perbedaan kita malah saling menzalimi. Kejadian apa pun yang telah menimpa negeri ini, sudah semestinya menjadi pelajaran bagi kita semua. Di antara yang bisa kita ambil hikmahnya adalah kita harus punya tekad yang sama untuk membangun kebersamaan di negeri tercinta ini. Jangan biarkan kekerasan menjadi solusi dari permasalahan yang ada.

Lebih dari itu masalah yang sedang menimpa kita semua adalah bagian dari karunia Allah SWT. yang dapat membuat kita menjadi lebih maju, beradab, dan kuat dalam menghadapi masa yang akan datang, sepanjang kita menyikapinya dengan cara yang benar. Bagi orang yang imannya kokoh tidak pernah ada kejadian yang merugikan. Diberi nikmat kita bersyukur, syukur itulah kebaikan. Diberi ujian kita bersabar, sabar itu pun kebaikan. Kerugian hanyalah milik orang-orang yang tidak punya keyakinan yang kokoh dan tidak punya akhlak yang mulia.

Mungkin sebenarnya tidak ada yang salah dari perbedaan. Yang salah adalah jikalau kita tidak bisa menyikapi perbedaan yang ada. Bukankah Allah menciptakan keindahan itu justru dari perbedaan yang ada? Indahnya kebersamaan justru kalau kita dapat merasakannya sebagaimana kita melihat suatu rangkaian bunga. Lihatlah! Dalam sebuah rangkaian kita dapat menemukan bunga yang berwarna cokelat, merah, jingga, atau merah muda. Semuanya berpadu memberi semburat nuansa indah yang memikat mata untuk melihat. Ya! Kita melihat keindahan justru melalui perbedaan.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw. perbedaan merupakan sebuah rahmat. Di sinilah tampaknya kita -- umat Islam -- harus mulai lebih memikirkan jalinan ukhuwah islamiah dibandingkan memperbesar jurang perbedaan. Dalam suatu riwayat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?" Sahabat menjawab, "Tentu saja!" Rasulullah pun kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan" (H.R. Bukhari-Muslim).

Perbedaan adalah rahmat, karena itu setidaknya ada lima hal yang patut kita renungkan dalam menghadapi perbedaan. Pertama, menyadari. Kita harus mulai melihat perbedaan ini dengan menyadari bahwa perbedaan itu pasti ada dan bahkan harus ada. Kedua, memahami. Artinya, kita harus senantiasa mencoba memahami setiap perbedaan yang ada. Ketiga, memaklumi. Sejak saat ini kita harus belajar untuk memaklumi setiap perbedaan yang ada di antara kita. Keempat, memaafkan. Perbedaan tak jarang membuat adanya ketersinggungan-ketersinggungan. Oleh karena itulah, kita harus mampu memberi keluasan maaf. Kelima, memperbaiki. Terkadang perbedaan memang tidak selalu baik, di sinilah kita perlu kemauan untuk memperbaiki, bukan menyalahkan.

Saudaraku, dapat kita renungkan bahwa betapa besar nilai sebuah jalinan persaudaraan dalam menyikapi perbedaan. Oleh karena itu, memperkokoh pilar-pilar ukhuwah islamiah merupakan salah satu tugas penting bagi kita.

Lalu, bagaimanakah agar ruh ukhuwah tetap kokoh? Rahasianya ternyata terletak pada sejauh mana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki qalbu (hati) yang bening bersih dan selamat. Karena qalbu yang kotor dipenuhi sifat iri, dengki, hasud, dan buruk sangka, hampir dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang justru dapat merusak ukhuwah. Mengapa? Sebab bila di antara sesama muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling iri, dan saling mendengki, maka bagaimana mungkin akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah?

Sekali lagi Saudaraku, adakah rasa persaudaraan dapat kita rasakan dari orang yang tidak memiliki kemuliaan akhlak? Tentu saja tidak! Kemuliaan akhlak tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam qalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih tafarruq (perpecahan) yang mengejawantah dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama muslim.

Coba tanyakan kepada diri kita. Adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati terhadap adik, kakak, atau bahkan ayah dan ibu sendiri? Adakah kita saat ini masih menyimpan kesal kepada teman sekantor karena ia lebih diperhatikan oleh atasan? Bila demikian, bagaimana bisa terketuk hati ini ketika mendengar ada seorang Muslim yang teraniaya, ada sekelompok masyarakat Muslim yang diperangi? Bagaimana mungkin kita mampu bangkit serentak manakala hak-hak Muslim dirampas oleh kaum yang zalim? Bagaimana mungkin kita akan mampu menata kembali kejayaan umat Islam?

Nah, dari sinilah seyogianya memulai langkah untuk merenungkan dan mengkaji ulang sejauhmana kita telah memahami makna ukhuwah islamiah karena justru dari sini pula Rasulullah saw. mengawali amanah kerasulannya. Betapa Rasul menyadari bahwa menyempurnakan akhlak pada hakikatnya adalah merubah karakter dasar manusia. Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya.

Manakala kesadaran telah tersemai, jangan heran kalau Umar bin Khathab yang pemberang adalah manusia paling pemaaf kepada musuhnya yang telah menyerah di medan perang. Seorang sahabat menempelkan pipinya di tanah dan minta diinjak kepalanya oleh sahabat bekas budak hitam yang telah dihinanya. Para sahabat yang berhijrah bersama Rasul ke Madinah, dipertautkan dalam tali persaudaraan yang indah dengan kaum Anshar, sedangkan kaum Muslimin Madinah ini rela berbagi tanah dan tempat tinggal dengan saudara-saudaranya seiman seakidah tersebut.

Saudaraku, kekuatan ukhuwah memang hanya dapat dibangkitkan dengan kemuliaan akhlak. Oleh karena itu, tampaknya kita amat merindukan pribadi-pribadi yang menorehkan keluhuran akhlak. Pribadi-pribadi yang aneka buah pikirannya, sesederhana apa pun, adalah buah pikiran yang sekuat-kuatnya dicurahkan untuk meringankan atau bahkan memecahkan masalah-masalah yang menggelayut pada dirinya sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya sehingga berdialog dengannya selalu membuahkan kelapangan. Wallahu'alam.***

Hakikat Cinta

K.H. Abdullah Gymnastiar



Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

Hikam:
"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

"Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita. Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.

Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran,
harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka. (imm)

Rabu, 05 Oktober 2011

Tugas Terstruktur Mata Kuliah Bioanorganik

Stabilisasi Mn(II) dan Mn(III) pada Kompleks Mononuklear dengan Donor N2O: Sintesis, Stuktur Kristal, Aktivitas Superoksiada Dismutase dan Studi Interaksinya dengan DNA

Description: ~logo unsoed






Disusun Oleh:

Jaka Purnama H1A007012

Iskandar Zulkarnain H1A007047

Feni Sumiati H1A008029

Etin Nurfebriani I H1A008030

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

JURUSAN MIPA PROGRAM STUDI KIMIA

PURWOKERTO

2011

I. PENDAHULUAN

Mangan, suatu unsur penting untuk manusia yang jumlahnya melimpah di alam dan logam melimpah kedua dalam kaitannya sebagai logam transisi periode pertama. Pada kehidupan beberapa enzim seperti superoksida dismutase, oksalat oxidase, lipoksigenase (LO), katalase dan sebagainya memerlukan logam mangan sebagai kofaktor untuk aktivitas katalitik enzim-enzim tersebut. Pada reaksi biologi, mangan berperan sebagai asam lewis kadang pada sisi lain,mangan dapat berperan untuk reaksi redoks pada kedudukan oksidasi + 2, +3 dan + 4. Oleh karena itu mangan mempunyai peran yang banyak pada kehidupan. Kimia koordinasi dari mangan telah dimanfaatkan untuk modeling struktural dan fungsional dari metalloprotein. Aplikasi lain dari mangan yaitu untuk studi aktivitas katalitis dan sintesis dari kompleks logam fotolabil nitrosil. Stabilisasi dari keadaan oksidasi mangan telah mencakup toksisitas dari mangan itu sendiri. Superoksida dismutase merupakan kelas penting dari enzim redoks yaitu bertanggung-jawab untuk reaksi disproporsionasi dari ion superoksida (O2) yang dihasilkan oleh suatu pengurangan elektron dari oksigen. Reaksi redoks diperlihatkan di bawah ini:

Ion superoksida diketahui menjadi penyebab stres oksidatif dan jenis reaktif ini bertanggung-jawab untuk beberapa penyakit seperti cedera reperfusi, artritis, neuronal apoptosis, kanker dan lain sebagainya. Metalloenzim ini dapat melakukan reaksi katalisis redoks dengan beberapa ion logam yaitu tembaga, seng, mangan, besi atau nikel. Kompleks mangan meniru aktivitas dari enzim superoksida dismutase yang digunakan untuk menghancurkan ion superoksida yang merugikan. Selain kompleks mangan dan turunannya secara luas dapat digunakan untuk meniru aktivitas SOD.

Interaksi DNA dengan kompleks logam transisi diperoleh interaksi sehingga dapat digunakan untuk aplikasi dalam penelitian kanker dan kimia asam nukleat. Meskipun cisplatin dan carboplatin sedang digunakan, ada beberapa efek samping obat kemoterapi. Di antara kompleks logam transisi lain, yaitu kompleks tembaga dan ruthenium, saat ini digunakan secara ekstensif untuk mempelajari interaksi logam kompleks dengan DNA. Pada jurnal ini telah merancang tiga ligan tridentate berisi donor phenolato tunggal bersama dengan piridin dan donor imina. Sintesis dan karakterisasi spektroskopi dari turunan ligan yang baru dan kompleks mononuklear kompleks mangan akan dijelaskan. Struktur molekul dari dua kompleks perwakilan direpresentasikan penentuannya dengan alat kristalografi sinar-X. Ditentukan juga nilai IC50 untuk kompleks ini menggunakan xanthine oksidase-xanthine-nitrobluetetrazolium (NBT) assay. Jurnal ini juga melaporkan studi interaksi turunan kompleks mangan dengan DNA dan aktivitas nukleasenya.

II. METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Bahan

Semua pelarut sebagai pereaksi dapat digunakan. Pemurnian dari semua pelarut dilakukan pada tekanan rendah. Toluene, dietieter, dimetilsulfooksida (DMSO), dimetilormamida (DMF), kloroform dan diklorometana dimurnikan pada penyulingan sekitar 4 Å ayakan molekular dan ayakan penyimpanan. Metanol dimurnikan dengan destilasi sekitar 3 Å ayakan molekular dan ayakan penyimpanan. Asetonitril, aseton dikeringkan dengan refluks dan penyulingan sekitar P2O5 (0. 5%, w / v). Bahan reaksi susun analitis salisilaldehid, o hydroxyace - tophenone, 2 - hidroksi - 1 - naptaldehid, trietilamin,Natrium perklorat dan t-buttilhidroperoksida (tBuOOH), natrium hidrida, MnCl2.4H2O,Mn(CH3COO)2.4H2O, Mn(ClO4)2.6H2O, Mn(CH3COO)3.2H2O. [Mn(DMF)6]ClO4)3, Xanthine, nitro blue tetrazolium (NBT) dan katalase, xantine oxidase (XO), agarosa dan ethidium bromida (EB). supercoiled pBR322 DNA dan DNA timus anak sapi (CT DNA) dan Penyangga Tris.

2.2 Cara Kerja

2.2.1 Pengukuran fisik

Analisis unsur dilakukan secara mikroanalitika pada Elemenlar Vario EL III. Titik leleh diperoleh mempergunakan alat penentuan titik leleh. Spektra IR ditentukan menggunakan pellet KBr dengan spektrometer Thermo Nikolet Nexus FT IR menggunakan 50 pembesaran dan didapat sinyal dalam cm-1, data GC-MS diperoleh menggunakan satu quadrupole Perkin Elemer Clarus 500 yang dipasangkan pada satu Perkin Elemer Clarus 500 GC yang disiapkan dengan sebuah detektor kolom Elit - 1 dan detektor massa dioperasikan pada 70 eV. Spektrum serapan elektronik merekam tentang bahan pelarut diklorometana, asetonitril, DMF atau DMSO dengan sebuah Evolusi 600, spektrofotometer Thermo Scientific UV–vis. Titrasi penentuan emisi dilakukan pada Varian spektrofotometer fluoresensi. 1H dan 13C NMR direkam pada spektrometer Bruker AVANCE, 500. 13 MHz, penggantian kimia untuk spektrum 1H NMR berhubungan ke standar internal Me4Si untuk seluruh residu protium pada bahan pelarut terdeutrasi. Kepekaan magnetis ditentukan pada 297K dengan Magnetometer Vibrasi model 155, menggunakan nikel sebagai standarnya. Koreksi diamagnetik dilakukan dengan kenaikan Pascal-nya. Konduktivas molar pengikatannya ditentukan dalam DMF pada 10-3 suhu 250C dengan sebuah konduktometer Systronics 304. Pengukuran voltammetri siklis di ukur menggunakan sebuah elektronalizer CHI-600C dalam diklorometana dan asetonitril. Sebuah tiga elektroda konvensional mengatur daya dari platina sebagai elektroda pelengkap, kaca karbon elektroda pekerja dan electroda Ag(s)/AgCl, digunakan sebagai elektroda referensi. Pengukuran ini dilaksanakan menggunakan 0.1 m tetrabutilammonium perklorat (TBAP) sebagai pendukung elektrolit, mempergunakan konsentrasi kompleks 10-3 M dalam diklorometana dan asetonitril. Sepasang ferrosena / ferrosenium ditemukan dalam E1/2 = + 0.42 (72) V vs. Ag/AgCl pada kondisi percobaan yang sama. Semua percobaan dilaksanakan dalam temperatur kamar.

2.3 Sintesis ligan

2-(1-phenylhydrazinyl)pyridine dipersiapkan sesuai dengan petunjuk referensi yang ada. PhimpH ligan (2-((2-phenyl-2-(pyridin-2- yl)hydazono)metil)zat asam karbol), N–PhimpH (2-((2- phenyl-2-(pyridin-2- yl)hydrazono)metil)napthalen-1-ol), Me–PhimpH (2-(1-(2-phenyl-2-(pyridine-2- yl)hydrazono)etil)-zat asam karbol) dipadukan dengan mereaksi 2-(1-phenylhydrazinyl)-pyridine dengan salicylaldehyde, 2-hydroxy-1- napthaldehyde dan o-hydroxyacetophenone berturut-turut dengan metanol. Rincian sintesis dideskripsikan pada Keterangan Pendukung.

2.4 Sintesis dari kompleks logam

Garam Perklorata dari kompleks logam dengan ligan organik berpotensi dapat meledak. Hanya kuantitas kecil dari senyawa ini yang disiapkan dan ditangani dengan perlindungan sesuai. Semua kompleks dipersiapkan oleh lebih dari satu prosedur. Sebuah metode dideskripsikan sini dan sisanya dideskripsikan pada Pendukung Keterangan.

2.4.1 Sintesis dari [Mn(Phimp)2] (1)

Kompleks 1 direaksikan menggunakan tiga mangan yang berbeda (II) yang menggarami secara terpisah, keseluruhan prosedur hampir sama. Satu batch dari triethylamine (Et3N) (133. 3 mg, 1. 32 mmol) ditambahkan ke dalam ligan (PhimpH) (381 mg, 1. 32 mmol) pada 10 mL diklorometana. Setelah diaduk selama 30 menit, satu batch dari Mn (ClO4)2.6H2O (238 mg, 0. 66 mmol) pada 10 mL metanol ditambahkan scara perlahan-lahan. Setelah 3 jam pengadukan, bahan pelarut diuapkan untuk membentuk padatan oranye kemudian dicuci dengan sejumlah kecil metanol, dietileter dan dikeringkan dalam vakum. Padatan oranye membentuk kristal tampak difusi dietileter dalam diklorometana / metanol (1:1) dari kompleks selama 24 jam.

2.4.2 Sintesis dari [Mn(Phimp)2]ClO4) (2)

Satu batch ligan (PhimpH) (578.0 mg, 2.00 mmol) dilarutkan pada 7 mL diklorometana, metanol dan air (2.0:4.5:0.5). Setelah di aduk selama 10 menit, satu batch dari Mn (CH3COO)3.2H2O (268.0 mg, 1.00 mmol) ditambahkan secara perlahan, warna dari larutan berubah menjadi warna coklat gelap. Setelah 15 menit di aduk, sodium perklorate (140.0 mg, 1.00 mmol) ditambahkan ke campuran reaksi di atas. Padatan coklat mengendap setelah 30 menit, selanjutnya di aduk selama 3 jam. Setelah 3 jam pengadukan, campuran reaksi membentuk padatan coklat gelap kemudian dicuci dengan kelebihan dari metanol dan dikeringkan dalam vakum. Warna coklat gelap menghalangi kristal bentuk tampak lambat vaporasi dari larutan kompleks 2 dalam asetonitril / dietileter (5 mL/3 tetes) setelah satu minggu pada suhu-kamar.

2.4.3 Sintesis dari [Mn(N–Phimp)2] (3)

Satu batch NaH (7.7 mg, 0.32 mmol) ditambahkan ke larutan ligan (N–PhimpH) (101.7 mg, 0.30 mmol) dalam toluene (15 mL). Setelah di aduk selama 30 menit, satu batch Mn(ClO4)2.6H2O(54.3 mg, 0.15 mmol) pada 5 mL metanol ditambahkan secara perlahan, warna larutan berubah dari menguning ke oranye. Setelah 3 jam pngadukan pada atmosfer nitrogen, campuran reaksi dikonsentrasikan menjadi 5 mL, padatan oranye terbentuk. Padatan oranye ini dicuci dengan kelebihan dari toluene dan sejumlah kecil metanol dan dikeringkan dalam vakum.

2.4.4 Sintesis dari [Mn(N–Phimp)2]ClO4) (4)

Satu batch dari triethylamine (Et3N) (17.2 mg, 0.17 mmol) ditambahkan pada larutan ligan (N–PhimpH) (57.6 mg, 0.17 mmol) dalam10 mL metanol:diklorometana (1:1). Setelah di aduk selama 30 menit, satu batch Mn(ClO4)2.6H2O (61.5 mg, 0.17 mmol) pada 5 mL metanol ditambahkan pelan-pelan, warna larutan berubah dari kuning ke oranye dan setelah 2–3 jam warna larutan berubah menjadi warna coklat gelap. Setelah 12 jam pengadukan, 5 mL dietileter ditambahkan pada campuran reaksi di atas, padatan coklat memisah dari larutan dan dicuci dengan sejumlah kecil metanol dan dikeringkan dalam vakum.

2.4.5 Sintesis dari [Mn(Me–Phimp)2](ClO4) (5)

Satu batch NaH (24.0 mg, 1. 00 mmol) ditambahkan ke dalam larutan ligan (Me–PhimpH) (303.0 mg, 1.00 mmol) dalam diklorometana (5 mL). Setelah di aduk selama 15 menit, satu batch dari [Mn(DMF)6] ClO4)3 (395.0 mg, 0.50 mmol) pada 10 mL asetonitril ditambahkan pelan-pelan; warna larutan berubah dari kuning ke warna coklat gelap. Setelah 3 jam pngadukan, 5 mL dietileter ditambahkan ke campuran reaksi di atas dan sebuah padatan coklat dipisahkan lalu dicuci dengan sejumlah kecil metanol dan dikeringkan dalam vakum.

2.5 Penentuan struktur X-ray

Menurut data X-ray dan proses untuk kompleks 1 dan 2 dibentuk pada Diffraktometer Bruker Kappa II. CCD dengan menggunakan monokromator grafit pancaran Mo-Kα (λ= 0.71070 Å) pada suhu 293 K dan 296 K. Struktur kristal dilarutkan dengan metode langsung. Data yang dihasilkan dapat dibawa keluar dengan program SHELXTL. Atom hidrogen ditempatkan pada posisi geometri dengan mempergunakan suatu model. Hasil tersebut dapat diperoleh dengan program DIAMOND.

2.6 Pengukuran aktivitas dari superoksida dismutase

Aktivitas Superoksida dismutase dari kompleks 1, 2, 4 dan 5 ditentukan oleh penggunaan metode tak langsung menggunakan uji nitro blue tetrazolium (NBT). Pada metode ini anion superoksida dihasilkan di tempat asalnya menggunakan sistem enzymetically oleh sistem xanthine / xantine oxidase dan dideteksi dengan spektrofotometri oleh reduksi dari NBT yang dihasilkan oleh sebuah formazan berwarna biru. Absorbansi pada 560 nm dapat meningkat akibat formazan yang dihasilkan. Bagaimanapun, peningkatan laju dari absorbansi berkurang dengan peningkatan dari konsentrasi kompleks. Pengujian diselesaikan menggunakan buffer fosfat (50 mM) pada pH 7.8 menggunakan xanthine 0.2 mM, 0. 12 mM NBT, 0.07 U/mL xanthine oxidase dan catalase 1000 U/mL dengan volume akhir 750 μL. Senyawa yang diuji dilarutkan dalam DMSO / DMF (untuk 1 dan 5 dalam DMSO serta kompleks 2 dan 4 di DMF) dan konsentrasi akhir dari DMSO / DMF pada campuran reaksi tersebut adalah 0.1% dalam buffer fosfat pada pH 7.8. Reaksi diawali dengan penambahan 0.07 U/mL xanthine oxidase dan pengukuran diawali setelah 15 menit dari masing-masing percobaan.

2.7 Studi pengikatan DNA oleh titrasi, spektroskopi dan percobaan

Percobaan diselesaikan dalam 0.1 M buffer fosfat pada pH 7.2 menggunakan larutan thymus DNA anak sapi (CT-DNA) pada absorbansi 260 nm dan 280 nm (A260 / A280) yang mengakibatkan CT-DNA menjadi bebas protein. Konsentrasi larutan DNA diukur dengan spektrofotometer UV–visible dengan absorbansi 260 nm. Titrasi absorbansi diselesaikan dengan sebuah kompleks 23 μM dari variasi konsentrasi CT-DNA dari 0- 68 μM.

Percobaan fluoresensi diselesaikan dengan penambahan 0-7 μM dari kompleks mangan ke larutan DNA (25 μM) yang mengandung 5 μM EB dalam 0.1 M buffer fosfat pH 7.2, sampel tersebut diukur pada 510 nm dan emisinya diamati diantara 530 dan 550 nm.

Perpecahan dari plasmid DNA dimonitori menggunakan elektroforesis gel agarosa. Super koloid pBR32 DNA (200 ng) dalam TBE pH 8.2 direaksikan dengan kompleks mangan 100 μM yang dilarutkan dalam DMF (10%) yang keberadaannya berasal dari zat additif. Oksidatif perpecahan DNA oleh kompleks dipelajari keberadaannya dari H2O2 (200–400 μM agen pengoksidasi) dan KI (400 μM). Sampel diinkubasi selama 1,5 jam pada 370C dengan penambahan loading buffer (25% bromofenol biru dan 30% gliserol). Gel agarosa (0.8%) mengandung 0.4 μg/mL dari EB disiapkan dan dielektroforesis dari perpecahan produk DNA ditunjukkan sebelumnya. Gel dioperasikan pada 60 V selama 2 jam dalam buffer TBE dan pita DNA nya diidentifikasi dengan cara diletakkan di bawah lampu UV ilumnator. Fragmen DNA didokumentasi menggunakan BIO RAD.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Sintesis dan Karakterisasi dari Ligan dan Kompleks Logam

Ligan tridentat PhimpH, N–PhimpH dan Me–PhimpH telah disintesis dan dikarakterisasi menggunakan analisis unsur, UV–visible, IR, spektrometri GC-MS, dan spektroskopi NMR. [Mn(Phimp)2] (1) disintesis dari reaksi deprotonasi ligan dengan mangan (II) sebagai bahan dasar. [Mn(Phimp)2]ClO4 (2) disiapkan dengan mangan (III) sebagai bahan dasar melalui reaksi oksidasi dari kompleks 1 oleh tBuOOH. [Mn(N–Phimp)2] (3) disiapkan dengan mangan (II) sebagai bhan dasar dalam atmosfer inert. Turunan 4 dari mangan (III) disiapkan dengan reaksi deprotonasi ligan dengan [Mn(DMF)6]ClO4)3. Pada faktanya, deprotonasi ligan Me–PhimpH tidak mestabilkan pusat mangan (II) dan pada semua percobaan diakhiri dengan kompleks [Mn(Me–Phimp)2]ClO4 (5). Prosedur pembuatan dari kompleks 1, 2, 3, 4, 5 dan konversinya telah diringkas pada Gambar 1.

Gambar 1. Pembuatan kompleks 1, 2, 3, 4, 5.

Karakteristik pita azomethine (–HC=N–) pada IR untuk ligan bebas yang diamati pada 1607–1620 cm-1. Koordinasi dari nitrogen untuk logam pusat dengan menurunkan densitas elektron dalam separuh ke themetal memusat dikurangi kepadatan elektron pada azomethine sehingga dapat menurunkan frekuensi regang azomethine untuk ν–HC=N pada [Mn(Phimp)2] dan [Mn(N–Phimp)2] dengan jelas mengindikasikan ligasi dari azomethine nitrogen ke logam pusat. ν–HC=N untuk [Mn(Phimp)2](ClO4), [Mn(N–Phimp)2](ClO4), dan [Mn(Me–Phimp)2](ClO4) yaitu berturut-turut 1608, 1611 dan 1603 cm-1. Serapan IR mendekati 1090 cm-1 bersama-sama dengan sebuah serapan pada 623 cm-1 yang ditemukan pada semua kompleks mangan (III). Kekurangan dari pembelahan dua pita diakibatkan oleh kehadiran ion perklorat non koordinasi ke logam pusat. Serapan dengan intesitas intensitas 1297–1324 cm-1 pada dasar Schiff dapat diperlakukan sebagai regangan fenol C-O. Pergeseran dari νC–O ke frekuensi lebih tinggi mendukung deprotonasi dan formasi ikatan metal-oksigen. Selanjutnya didukung oleh penghilangan dari lebar νO–H pada spektrum IR dari semua kompleks logam. Pengukuran konduktivitas molar dalam DMF pada ca.10-3 M dan ditentukan pada suhu 25 0C untuk kompleks 1 dan 3 ditemukan berturut-turut 6.0 dan 8.0 Ω-1 cm2 mol-1 sedangkan dengan pengukuran yang sama untuk kompleks 2, 4 dan 5 berturut-turut yaitu 59.0, 61.0, dan 54.0 Ω-1 cm2 mol-1. Nilai untuk kompleks 1 dan 3 dikonfirmasi oleh perilaku elektrolit netral sedangkan nilai untuk kompleks 2, 4 dan 5 dengan jelas menunjukkan uni valensi tunggal (1:1) perilaku larutan elektrolit. Untuk kompleks 1 dan 3, pada temperatur kamar 297 K nilai momen magnetiknya berturut-turut yaitu 5.87 dan 5.49 μB, meramalkan stabilitas dari high-spin d5 mangan (II) pada dua kompleks di atas. Nilai momen magnetik untuk kompleks 2, 4 dan 5 berturut-turut yaitu 4.69, 4. 97 dan 4.77 μB, dimana dapat diharapkan untuk spin magnetik tinggi d4 ion mangan (III), menandai sedikit atau tidak adanya interaksi antiferomagnetik. Absorpsi maksimal pada 400 nm untuk kompleks 1 serta pada 430 dan 450 nm untuk kompleks 3 sebagai syarat ligan ke transfer muatan logam (LMCT) transisi. Serapan yang mendekati 420 nm berturut-turut untuk kompleks 2, 4 dan 5 sebagai syarat dari oksigen fenolato ke mangan (III).

3.2. Interkonversi

Karakteristik spektrum UV–visible dari sintesis kompleks mangan ini men untuk memonitor interkonverinya mereka (diperlihatkan di skema 2) melalui pembahasan spektrum UV–visible. Interkonversi dari kompleks 1 ke kation dari kompleks 2 diperlihatkan pada gambar 1 sedangkan interkonversi dari kompleks 3 ke kation dari kompleks 4 diperlihatkan pada gambar 2. Absorbansi mencapai puncak pada panjang gelombang 399 nm dari komplek [MnIII (Phimp)2]+ seperti terlihat pada gambar 1. Penyusutan pada intensitas dari puncak pada 429 nm dan 448 nm dan bertambah pada intensitas dari puncak pada 384 nm pada gambar 2 menandai pembentukan kation kompleks 4 dari kompleks 3. Waktu perencanaan (ada pada gambar 2a dan 2b) dengan jelas memperlihatkan laju yang lebih tinggi dari konversi dengan oksidasi produk dari tBuOOH dibandingkan dengan konversi dari oksigen. Oleh karena itu kompleks 2 dan 4 dapat direaksikan menggunakan reaksi oksidasi dari kompleks 1 dan 3. Karakterisasi dari kompleks 2 dan 4 yang diperoleh dari oksidasi kompleks 1 dan 2 oleh tBuOOH disajikan ke data spektrum IR.

Gambar 2. Titrasi dari [Mn(Phimp)2] (1) dengan tBuOOH. Spektrum diukur setelah penambahan berurutan 5 µL (0,1 M) tBuOOH ke 10 µL dari 5,5 x 10-4 M [Mn(Phimp)2] (1) dalam 1 ml DMF pada suhu 250C.

Gambar 3. (a) Oksidasi untuk konversi dari kompleks 3 ke kation kompleks 4 oleh pengulangan 10 µL dari 2,87x10-3 mM dari [Mn(N–Phimp)2] oleh dichloromethane (1 ml) dan berganti pada pola spektral yang diukur dengan interval minimum 0,6.

(b) Titrasi dari [Mn(N–Phimp)2] oleh 5 µL dari konsentrasi 3,25x10-3 mM dengan 0.2 µL tBuOOH (0,01 M) dan perubahan terjadi pada pola spektral yang diukur dengan interval minimum 1 dalam 1ml DMF dengan suhu 250C.

3.3. Deskripsi Struktur

Untuk memperoleh struktur baru dari ligan, kristal tunggal dari ligan PhimpH ditumbuhkan secara perlahan-lahan dengan cara evaporasi dari larutan diklorometana. Struktur molekular dari PhimpH dijelaskan oleh Difraksi tunggal Sinar-X. Struktur kristal pada C=N jarak ikatan dari 1.283 (3 ) Å yang mendekati nilai dari 1.282 (3) Å.

Struktur molekul kompleks mangan [Mn(Phimp)2] (1) dan [Mn(Phimp)2](ClO4) (2) dijelaskan pada gambar 3 dan 4.

Gambar 4. Struktur kristal dari [Mn(Phimp)2] (1), atom menyatakan sebagai lapisan dengan diameter yang berubah-ubah dan garis molekul terletak pada dua kali lipat sumbu x (axis) dari pusat simetri.

Gambar 5. Struktur kristal dari [Mn(Phimp)2](ClO4) (2), atom menyatakan sebagai lapisan dengan diameter yang berubah-ubah.

Semua parameter kristalografi disusun pada Tabel 1 dan pemilihan jarak ikatan dan sudut ikatan terdapat pada Tabel 2.

Tabel 1

Data kristalografi untuk kompleks [Mn(Phimp)2] (1) dan [Mn(Phimp)2](ClO4) (2).

Tabel 2

Dipilih jarak ikatan (Å) dan sudut (0) pada pusat mangan untuk [Mn(Phimp)2] (1) dan [Mn(Phimp)2](ClO4) (2). Pada kompleks 1 garis molekul tarletak pada dua kali lipat sumbu x (axis) dari pusat simetri. Pada kompleks 1 dan kompleks 2 struktur molekular yang lengkap dapat dikembangkan lebih lanjut.

Kristal dari kompleks 1 diperoleh dari difusi dietileter ke suatu larutan dari kompleks 1 dalam camputran diklorometana:metanol (1:1). Senyawa pada kompleks 1 dikristalisasi pada kelompok monoklin C2/c yang terdiri dari kompleks netral mangan (II) mononuklir pada donor N4O2.

Pada kompleks 1 garis molekul terletak pada dua kali lipat sumbu x (axis) dari pusat simetri dan struktur molekular yang lengkap dapat dikembangkan lebih lanjut. Ligan PhimpH merupakan ligan yang terkoordinasi ke ion pusat mangan pada kompleks 1 dan kompleks 2. Pada kedua kompleks 1 dan kompleks 2, pusat logamnya terkoordinasi oleh dua trans nitrogen imina, dua cis nitrogen piridin, dan dua donor cis phenolato posisi oktahedral yang terdistorsi. Pada kompleks 1, jarak Mn–Npy dalah sebesar 2.255 (2) Å. Dengan cara yang sama Mn–Ophenolato (2. 0405 (18) Å) jarak ikatannya lebih pendek daripada struktur [MnIIL](ClO4) (jarak Mn–Ophenolato adalah 2.078 (5) Å, dimana L adalah ligan heptadentat) dan ion [Mn(pyo3tren)]2+ (jarak Mn–Ophenolato adalah 2. 192 (3) Å, dimana pyo3tren juga merupakan ligan heptadentat). Jarak Mn–Nimina adalah 2.2984 (17) Å juga berhubungan erat dengan data sebelumnya. Koordinasi MnN4O2 memperlihatkan suatu distorsi akibat kekakuan ligan sehingga sudut pada pusat logam [N2–Mn–N2; 153.94(9)0, O1–Mn–N1; 100.9(3)0, O1–Mn–N1; 151.24(6)0 (diperlihatkan pada Tabel 2) yang menunjukkan penyimpangan pada posisi oktahedral yang ideal.

Kompleks [Mn(Phimp)2](ClO4), dikristalisasi setelah proses penguapan secara perlahan-lahan dari suatu larutan pada kompleks 2 dalam acetonitril dietileter. Proses kristalisasi tersebut berlangsung pada kelompok trigonal P3121. Distorsi sempurna pada geometri oktahedral dilakukan oleh N2–Mn1–N1 dari 74.96 (12)0, N1–Mn1–N1; 166.57 (16)0 (diperlihatkan pada Tabel 2) yang mempunyai perbedaan secara signifikan dari sudut ideal 900 dan 1800. Pada kompleks 2, jarak Mn–Npy dan Mn–Ophenolato jarak konsisten dengan data sebelumnya. Jarak ikatan Mn–Nimina sebesar 2.176(3)Å lebih panjang dibandingkan nilai umum dari 2.001(6)Å pada [MnIII(L)Cl]+ dimana L adalah ligan dasar Schiff dan yang lainnya merupakan struktur kompleks mangan (III). Konfigurasi d4 dari mangan (III) merupakan system yang alami untuk distorsi Jahn–Teller dan diharapkan dapat memperlihatkan perpanjangan dari ikatan trans. Pada kompleks trans imina ikatannya lebih panjang dibandingkan jarak umum sehubungan dengan distorsi Jahn–Teller.

Pengujian diagram dari kompleks 1 dan kompleks 2 merupakan interaksi non kovalen. Tipe non kovalen dan interaksi ikatan hidrogen pada suatu kompleks sangat berperan pada kristal dan kerangka supramolekuler. Data untuk interaksi non kovalen dapat diperlihatkan di Tabel 3.

Ada atau tidak adanya konjugasi diantara cincin piridin dan cincin phenolato menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pada ligan sebagai kompleks logam. Sudut diantara cincin fenil ke nitrogen mengandung cincin phenolato dan cincin piridin yaitu sebesar 88,140 untuk ligan, 86,380 untuk kompleks 1 dan 87,840 untuk kompleks 2 (cincin fenil vs mer naik plane). Perbandingan struktur dari ligan bebas dan ikatan ligan ke pusat logam menunjukkan fakta yang dapat diamati. Perubahan kecil dalam sudut N1–C8–N2 dan O1–C1–C6 dari suatu ligan dapat diamati pada kompleks 1 dan kompleks 2. Pada sisi lainnya sehubungan dengan koordinasi dari nitrogen imina ke pusat logam pada kedua kompleks, sudut N3–C7–C6 dari ligan mengalami penurunan sekitar 70. Panjang ikatan Mn–Npy, Mn–Ophenolato dan Mn–Nimina pada kompleks 2 lebih rendah daripada kompleks 1 yang menunjukkan kemantapan dari pusat mangan (II) untuk kompleks 1 dan pusat mangan (III) untuk kompleks 2. Hal tersebut telah sesuai dengan data momen magnet.

3.4. Hak Milik Redox dan Aktivitas Lapisan Tanah Teratas (SOD)

Untuk menguji pengaruh dari sintesis ligan pada pusat logam, kita dapat menyelidiki elektrokimia dari kelima kompleks yang telah diisolasi dan dikarakterisasi pada percobaan ini. Voltammograms dari kompleks 1 dan 5 diperlihatkan pada Gambar 5 (untuk kompleks 2, 3, dan 4 diperlihatkan pada Keterangan Pendukung Keterangan (Gambar S21)), dan potensial redoks untuk semua kompleks dapat diperlihatkan pada Tabel 3.

Gambar 6. Voltammogram siklis dari suatu larutan 10-3 M pada kompleks 1 dalam diklorometana dan kompleks 5 pada asetonitril untuk pembuatan 0.1 M tetrabutilammonium perklorat (TBAP), menggunakan elektroda karbon kaca, elektroda Ag/AgCl, dan elektroda pelengkap: platina, dengan laju 0.1 V/s.

Tabel 3

Data elektrokimia untuk pasangan redoks Mn (II)/Mn (III) dan Mn (III)/Mn (IV) pada suhu298 K vs Ag/AgCl.

Ligan netral non kompleks tidak memperlihatkan voltammogram siklis pada rentang 1,0 sampai 1,4V sehingga semua kurva ditujukan untuk aktivitas redoks dari suatu kompleks. Bentuk voltammogram siklis untuk semua kompleks hampir sama dengan dua puncak redoks. Untuk kompleks 1 dapat mencapai puncak dengan cara reversible (dapat balik) dimana kompleks 2 menunjukkan puncak kebalikannya. Untuk kompleks 3 dan kompleks 4 puncak redoksnya dapat dibalik dimana kedua pasangan redoks dapat dibalik di kompleks 5. Dari data (Tabel 3), menunjukkan bahwa satu elektron dilibatkan pada proses redoks tersebut. Gelombang yang dideteksi pada 0.14 sampai 0.40V vs Ag/AgCl telah dipertimbangkan sebagai satu elektron pada proses redoks menuju ke oksidasi [MnIIL2] ke [MnIIIL2]+ (dimana L=Phimp-, N–Phimp-, Me–Phimp-) yang menandai pasangan redoks Mn(II)/Mn(III). Gelombang redoks lainnya dapat terdeteksi pada E1/2=0. 80–1. 06V vs Ag/AgCl yang dideskripsikan sebagai pasangan redoks Mn(III)/Mn(IV). Nilai E1/2 untuk pasangan Mn(II)/Mn(III) dan Mn(III)/Mn(IV) pada kompleks 5 berturut-turut sebesar 0,143V dan 0,802V. Data tersebut untuk kompleks 5 secara komparatif lebih kecil dibandingkan dengan kompleks lainnya (Tabel 3), hal tersebut dapat dikarenakan adanya donor elektron (–Me) ke ligan.

Superoksida dismutase merupakan salah satu contoh proses redoks sehingga elektrokimia dari kompleks mangan sangat penting untuk Study Aktivitas SOD. Data elektrokimia menunjukkan bahwa pasangan Mn(II)/Mn(III) bertanggung jawab terhadap aktivitas katalitis pada jangkauan yang sesuai. Hal tersebut dapat member kesempatan pada kita untuk mempelajari aktivitas SOD dari kompleks yang ada. Nilai IC50 untuk aktivitas SOD didefinisikan sebagai konsentrasi dari sebagian senyawa untuk 50% larangan dari reduksi NBT oleh superoksida yang dihasilkan pada sistem oksidasi xanthine/xanthine. Data IC50 dari uji aktivitas SOD dapat dilihat pada Tabel 4 dan kurva larangan untuk kompleks 1 diperlihatkan pada Gambar 7.

Tabel 4

Nilai IC50 untuk tiap-tiap konstanta kinetik pada kompleks 1, 2,4, dan 5.

Gambar 7. Aktivitas SOD untuk kompleks 1 (dalam DMF) pada uji oksidasi xanthine-nitro blue tetrazolium (NBT).

Berdasarkan data yang diperoleh, untuk kompleks 2 menunjukkan nilai IC50 paling rendah, sedangkan untuk kompleks 4 menunjukkan nilai IC50 yang paling tinggi. Jika data IC50 dibandingkan untuk semua kompleks Mn (III), kompleks 2 menunjukkan nilai yang paling rendah dan kompleks 4 menunjukkan nilai IC50 yang paling tinggi. Kompleks 1 dan 2 memanfaatkan redoks Mn (II)/Mn (III) yang sama untuk menghancurkan ion superoksida. Kompleks 1 (untuk kedudukan oksidasi +2) mengubah ke sedangkan Mn lain yaitu kompleks Mn(III) mengubah ke menggunakan pasangan redoks yang sama. Sehubungan dengan ketidakstabilan kompeks 3 di udara maka kompleks tersebut tidak dapat diuji aktivitasnya. Bagaimanapun nilai IC50 untuk kompleks 1 dan 2 (berturut-turut 0. 29 μM dan 0.39 μM) tidak hanya menunjukkan nilai yang terbaik diantara kompleks-kompleks mangan yang lain tapi juga menunjukkan sifat yang mirip SOD.

3.5 Studi pengikatan DNA

Untuk menguji aktivitas nuklease dari semua kompleks ini maka dilakukan penelitian yaitu pertama menguji interaksi DNA dengan molekul kecil SOD. Diantara semua kompleks, kompleks 2 dipilih untuk syudi interaksi DNA sehubungan dengan daya larutnya di larutan buffer biologis. Kompleks lain tidak dapat larut sehingga tidak dapat digunakan untuk uji studi pengikatan DNA. Untuk memperjelas pengikatan DNA pada kompleks 2 maka digunakan 2 teknik pengukuran aktivitas yaitu studi spektrum UV–visible dan fuoresensi EB. Hasil percobaan diperlihatkan berturut-turut pada Gambar 8 dan Gambar 9

Gambar 8. (a) Spektrum serapan dari [Mn(Phimp)2] (ClO4), 2 dalam 0.1 mM buffer fosfat (pH 7.2) yang terbentuk seiring dengan peningkatan jumah dari DNA( [DNA] = μM 0–68).

(b ) Plot dari [DNA] (εA- εF) vs. [DNA]

Intensitas mencapai puncak pada 307 nm pada spektrum UV–visible kemudian menurun sehubungan dengan penambahan dari CT-DNA. Sebuah hypochromicity yang mungkin dari 4.41% tanpa perubahan pada panjang gelombang menyiratkan bahwa beberapa interaksi terjadi di antara kompleks 2 dengan permukaan dan berinteraksi dengan molekul DNA bukan interkalasi. Kuat ikatan dari kompleks 2 dengan CT-DNA dapat menjadi ekspresi dalam kaitannya dengan konstanta ikatan Kb, dimana mewakili konstanta ikatan per pasangan basa DNA. Konstanta ini dapat diperoleh dari pengamatan perubahan pada absorbansi pada satu λmaks dengan peningkatan pada konsentrasi CT-DNA dengan menggunakan persamaan:

[DNA]/(εA – εF)= [DNA]/(εB – εF)+ 1/Kb (εB - εgm)

dimana [DNA] merupakan konsentrasi dari DNA pada pasangan basa dan εA,εp, dan εB sesuai dengan rasio dari Aabs/[kompleks], berturut-turut yaitu absorptivitas molar untuk kompleks mangan bebas dan absorptivitas molar untuk kompleks mangan pada sepenuhnya pembentuk ikatan. Pada plot dari [DNA]/(εA – εF) vs. [DNA], Kb diberikan oleh rasio dari slop kemiringan ke Y-intersep. Konstanta ikatan Kb ditemukan agar untuk menjadi 7.87 104 M-1 dimana lebih rendah dibandingkan nilai yang dilaporkan pada interkalasi dari kompleks mangan. Pengujian studi spektral fluoresensi dilakukan ke kemungkinan selanjutnya dari model interkalasi ikatan. EB merupakan sebuah interkalator yang memberikan sebuah peningkatan signifikan pada pemancaran fluoresensi ketika berikatan dengan DNA, dan geserannya dari DNA menghasilkan pada satu penyusutan intensitas fluorecensi. Penambahan dari kompleks 2 ke sistem EB-DNA menunjukkan perubahan yang sangat kecil pada fluoresensi (diperlihatkan pada Gambar 9).

Gambar 9. Emisi spektrum fluoresensi dari sistem EB-CT-DNA ([DNA] = 25μM) dalam absensi (garis penghancur) dan presensi (garis padat) dari kompleks 2 (0–7μM)

Nilai Kb yang lebih rendah dan perubahan kecil pada spektrum fluoresensi menunjukkan interaksi ikatan non-interkalasi dengan DNA dan memungkinkan ikatan alur atau keterikatan eksternal yang disarankan. Struktur larutan untuk kompleks 2 juga mengungkap bahwa cincin fenil menyerang nitrogen secara tegak lurus (87.84o) ke ikatan ligan yang mempunyai cincin fenolato dan cincin piridin. Cincin fenil ini mungkin menghalangi interkalasi dengan DNA.

3.6 Aktivitas Nuklease

Studi absorpsi dan fluoresensi dengan kompleks 2 menunjukkan interaksi non-interkalasi dari kompleks mangan dengan CT-DNA. Selanjutnya yaitu mempelajari studi interaksi DNA dengan menguji aktivitas nuklease dari kompleks. Perpecahan dari supercoiled pBR322 DNA oleh kompleks dipelajari menggunakan gel elektroforesis dalam buffer tris. Pengujian aktivitas nuklease dilakukan pada 10% DMF untuk kompleks 1, 2 dan 4. Dampar scissions dari plasmid pBR322 diuji keberadaan H2O2-nya. Pengujian data yang peroleh dari gel elektroforesis DNA itu telah jelas menunjukkan bahwa H2O2 pada kompleks dapat membelah plasmid pBR322 DNA untuk satu campuran dari supercoiled dan menoreh DNA (diperlihatkan pada gambar 9).

Gambar 10. Hasil pemisahan menggunakan gel elektroforesis

Pada pencarian mekanisme dari aktivitas nuklease kompleks-kompleks ini diteliti juga aktivitas dari NaN3 dan KI dimana telah diketahui membentuk oksigen singlet dan radikal hidroksil. Tidak ada perubahan pada aktivitas nuklease dari NaN3 dan inhibitor dari aktivitas KI yang diamati. Data ini menunjukkan perannya dengan jenis oksigen reaktif (ROS) yang dilibatkan dalam aktivitas nuklease.

IV. KESIMPULAN

Sintesis dan karakterisasi spektroskopi kompleks Mn dengan ligan tridentate (PhimpH, N-PhimpH, dan Me-PhimpH) menghasilkan lima senyawa kompleks baru yaitu [Mn(Phimp)2], [Mn(Phimp)2ClO4], [Mn(N-Phimp)2], [Mn(N-Phimp)2ClO4], dan [Mn(Me-Phimp)2ClO4] sebagai senyawa tiruan SOD. Struktur molekul kristalografi sinar X dari 2 kompleks (1 dan 2) menunjukkan pembentukkan Mn (II) dan Mn(III) dengan pusat logam terikat secara meridional. Analisis sifat elektrokimia menunjukkan Mn(II)/Mn(III) dan Mn(III)/Mn(IV) merupakan pasangan redoks yang memenuhi syarat sebagai molekul kecil tiruan SOD. Nilai IC50 untuk 2 kompleks ini (0,29 dan 0,39) menunjukkan aktivitas kompleks dalam menghambat reduksi NBT oleh superoksida. Studi DNA interaksi dengan memeriksa aktivitas nuklease pada DMF 10% dari kompleks dilakukan untuk kompleks 1, 2 dan 4. Berdasarkan data yang diperoleh jelas bahwa H2O2 dapat dipecah oleh kompleks ligan baru dalam campuran superkoil plasmid DNA pBR322 seperti halnya aktivitas SOD dalam memecah H2O2 dalam tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ghosh, Kaushik et al., 2010, Stabilization of Mn(II) and Mn(III) in mononuclear complexes derived from tridentate ligands with N2O donors: Synthesis, crystal structure, superoxide dismutase activity and DNA interaction studies, Journal of Inorganic Biochemistry 104 (2010) 9–18.